Bengkulu Dapat Dukungan Rp23,55 Miliar untuk Perhutanan Sosial dan Kopi

Bengkulu, CoverPublik.com – Pemerintah Provinsi Bengkulu terus mendorong transformasi ekonomi masyarakat berbasis perhutanan sosial melalui pengembangan komoditas unggulan seperti kopi robusta dan hasil hutan bukan kayu (HHBK).

Gubernur Bengkulu Helmi Hasan mengatakan potensi besar sektor kopi dan perhutanan sosial harus mampu menjadi penggerak utama peningkatan kesejahteraan masyarakat, khususnya yang berada di kawasan hutan.

“Program ini adalah langkah nyata untuk meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan Bengkulu, terutama kopi robusta, sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat melalui tata kelola usaha yang lebih baik,” ujar Helmi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, Provinsi Bengkulu merupakan produsen kopi terbesar kelima di Indonesia dengan produksi mencapai sekitar 55 ribu ton atau 7,23 persen dari total produksi nasional pada 2023.

Helmi menilai, meskipun memiliki potensi besar, sektor tersebut masih menghadapi tantangan pada aspek tata kelola usaha, kelembagaan, serta peningkatan mutu pascapanen.

Sebagai upaya percepatan, Pemerintah Provinsi Bengkulu telah meluncurkan Program Kopi Merah Putih pada awal 2026 yang difokuskan pada hilirisasi produk dan penguatan ekonomi desa.

Program tersebut sejalan dengan implementasi Strategi dan Transformasi Ekonomi Komunitas Perhutanan Sosial yang menitikberatkan pada pengembangan model bisnis berbasis masyarakat.

Bengkulu menjadi salah satu dari tujuh provinsi yang menjadi lokasi intervensi program tersebut dengan dukungan anggaran sebesar 1,45 juta dolar AS atau setara Rp23,55 miliar.

Dana tersebut akan digunakan untuk memperkuat kelembagaan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS), meningkatkan kapasitas usaha, memperluas akses pasar, serta mendorong pengolahan produk agar memiliki nilai tambah lebih tinggi.

Program ini difokuskan di Kabupaten Bengkulu Utara dan Kabupaten Rejang Lebong, dengan melibatkan berbagai KUPS yang bergerak di sektor kopi, HHBK, ekowisata, hingga ekonomi kreatif berbasis hutan.

Di Bengkulu Utara, pengembangan mencakup sektor kopi, durian, hingga wisata berbasis alam, sementara di Rejang Lebong difokuskan pada penguatan rantai nilai kopi, khususnya produksi green bean.

Helmi optimistis program tersebut akan memperkuat posisi Bengkulu sebagai salah satu sentra kopi robusta nasional sekaligus mendorong kesejahteraan masyarakat.

“Bengkulu harus mampu mengelola potensi alam untuk kesejahteraan rakyat. Kopi harus naik kelas, masyarakat sejahtera, dan hutan tetap lestari,” katanya.

Pemerintah daerah menargetkan sinergi antara pemerintah, kelompok usaha, dan pemangku kepentingan lainnya dapat mewujudkan transformasi ekonomi hijau yang berkelanjutan dan berpihak pada masyarakat.