Aksi BEM SI Bengkulu Desak Transparansi Kasus Kekerasan Aktivis

Bengkulu, CoverPublik.com – Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) Wilayah Bengkulu menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung Juang 45 Korem 041 Gamas, Kota Bengkulu, Selasa (31/3).

Aksi yang dimulai pukul 17.00 WIB tersebut dipimpin langsung oleh Ketua BEM SI Bengkulu, Kelvin Malindo. Massa aksi menyampaikan sejumlah tuntutan terkait dugaan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dalam kasus kekerasan terhadap aktivis.

Sebelum aksi berlangsung, massa sempat melakukan negosiasi dengan pihak Korem untuk menggelar aksi di depan pintu masuk Markas Korem. Namun, pihak Korem hanya mengizinkan aksi dilakukan di depan Gedung Juang 45 dengan alasan area markas termasuk instalasi militer.

Dalam orasinya, Presiden Mahasiswa UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu, Andika Saputra, menegaskan pentingnya kebebasan berpendapat tanpa intimidasi.

“Jangan sampai penyampaian pendapat diintimidasi. Kasus ini harus dibawa ke peradilan umum karena korbannya adalah masyarakat sipil,” ujarnya.

Sementara itu, Presiden Mahasiswa Universitas Bengkulu, M. Ghifar, menilai kasus tersebut harus diusut secara transparan hingga ke aktor intelektual di balik peristiwa tersebut.

“Hari ini kita aksi solidaritas, kita kawal kasus ini hingga terang siapa dalang di balik kejadian ini,” kata Ghifar.

Hal senada disampaikan Ketua BEM Poltekkes Kemenkes Bengkulu, Naufal Azzakwan, yang menyoroti pentingnya kebebasan mahasiswa dalam menyuarakan aspirasi.

“Kita sebagai agen perubahan berhak menyuarakan aspirasi. Jangan ada intimidasi terhadap mahasiswa,” ujarnya.

Pada pukul 18.28 WIB, massa aksi membacakan pernyataan sikap yang berisi sejumlah tuntutan, di antaranya meminta negara mengusut tuntas pelaku dan dalang intelektual kasus penyiraman air keras terhadap aktivis secara transparan dan adil.

Selain itu, massa juga menuntut agar proses hukum dilakukan melalui peradilan koneksitas, serta mendesak evaluasi terhadap peran TNI dalam ranah sipil.

“Kami menuntut keadilan dan transparansi. Tidak boleh ada impunitas dalam kasus ini,” ujar perwakilan massa dalam pernyataan sikap.

Massa juga menyatakan akan terus mengawal perkembangan kasus serta membuka kemungkinan aksi lanjutan dengan jumlah massa yang lebih besar.