Jakarta, CoverPublik.com – Kementerian Kebudayaan terus mendorong penguatan ekosistem perfilman nasional melalui sinergi dengan PT Produksi Film Negara (PFN), guna meningkatkan daya saing industri film Indonesia di tingkat global.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan kolaborasi tersebut diarahkan untuk menyelaraskan berbagai program strategis, mulai dari penguatan ekosistem, fasilitasi pelaku industri, hingga pelestarian warisan budaya perfilman.
“Kita ingin mensinergikan apa yang kita lakukan dengan PFN agar ekosistem film nasional semakin kuat,” ujar Fadli dalam keterangannya, Kamis.
Menurut dia, penguatan industri perfilman nasional menjadi penting agar karya sineas Indonesia semakin dikenal di kancah internasional.
Pemerintah, lanjutnya, telah menyiapkan sejumlah instrumen untuk mendukung pengembangan industri film, termasuk penguatan Manajemen Talenta Nasional, dukungan pendanaan, serta fasilitasi bagi pelaku industri kreatif.
Direktur Utama PFN Riefian Fajarsyah menyampaikan bahwa pihaknya tengah melakukan transformasi kelembagaan untuk memperkuat peran PFN dalam industri perfilman nasional.
“PFN tidak hanya menjadi rumah produksi, tetapi juga berperan sebagai fasilitator dan katalisator bagi pelaku film Indonesia,” kata Riefian.
Ia menjelaskan, PFN berencana membangun pusat perfilman yang dilengkapi berbagai fasilitas, seperti pelatihan dan pendidikan film, sertifikasi kru, studio produksi, fasilitas pascaproduksi, serta ruang kerja bagi sineas.
Selain penguatan industri, Kementerian Kebudayaan juga menekankan pentingnya pengelolaan aset perfilman nasional melalui pendataan, digitalisasi, dan restorasi film.
Fadli menilai pembangunan museum film menjadi langkah strategis dalam menjaga memori kolektif bangsa sekaligus memperkuat identitas budaya.
“Kami membuka peluang kolaborasi dengan PFN dalam upaya restorasi film dan penguatan kekayaan intelektual karya perfilman Indonesia,” ujarnya.
Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Ahmad Mahendra menambahkan, pemerintah akan mengidentifikasi film yang perlu didigitalisasi maupun direstorasi, mengingat proses tersebut membutuhkan sumber daya besar.
“Kita akan mengidentifikasi film yang perlu didigitalisasi dan direstorasi sebagai bagian dari pelestarian,” kata Ahmad.










