
Bengkulu, CoverPublik.com – Dalam upaya membangun sinergi dan komunikasi yang sehat antara aparat keamanan dan kalangan mahasiswa, Kepolisian Daerah (Polda) Bengkulu menggelar kegiatan Coffee Morning bersama perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) serta Organisasi Kepemudaan (OKP) dari berbagai perguruan tinggi di Provinsi Bengkulu. Kegiatan ini berlangsung pada Selasa (9/9/2025) pukul 08.30 WIB di balkon lantai dua Mapolda Bengkulu.

Hadir dalam kesempatan tersebut Kapolda Bengkulu Irjen Pol Mardiyono, S.I.K., M.Si., didampingi Wakapolda Brigjen Pol Dicky Sondani, S.I.K., M.H., serta sejumlah pejabat utama (PJU) Polda Bengkulu lainnya. Sementara dari kalangan mahasiswa hadir sejumlah pimpinan BEM dan OKP, antara lain dari Universitas Dehasen, STIESNU, STIA, Poltekkes Bhakti Husada, IMM, PMII, dan Pemuda Muhammadiyah.
Dalam sambutannya, Kapolda Bengkulu Irjen Pol Mardiyono menyampaikan apresiasi atas kehadiran dan partisipasi para mahasiswa serta OKP dalam menjaga situasi keamanan selama berlangsungnya aksi unjuk rasa beberapa waktu lalu.
“Saya ucapkan terima kasih kepada rekan-rekan mahasiswa, BEM dan OKP yang telah menjaga ketertiban selama aksi unjuk rasa kemarin. Ini bukti bahwa mahasiswa kita adalah insan intelektual yang bertanggung jawab,” kata Kapolda.
Ia juga menegaskan bahwa Polda Bengkulu terbuka terhadap saran, kritik, dan masukan dari kalangan pemuda dan mahasiswa.
“Silakan kritik kami. Polda Bengkulu sangat terbuka untuk berdiskusi, bahkan berkolaborasi dalam menjaga keamanan masyarakat,” imbuhnya.
Sejumlah perwakilan mahasiswa dan OKP yang hadir menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan coffee morning tersebut, sekaligus menyampaikan sejumlah catatan dan harapan.
Kalvin Aldo, perwakilan dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), meminta agar kegiatan serupa terus dilanjutkan.
“Kami berharap kegiatan seperti ini rutin digelar. Bahkan akan lebih baik bila Kapolda dapat menghadirkan unsur pimpinan Provinsi dan DPRD dalam pertemuan ke depan agar aspirasi kami bisa langsung tersampaikan,” katanya.
Senada dengan itu, Sandya, Ketua PMII Bengkulu, menyampaikan pentingnya Polri hadir secara aktif terhadap korban dalam aksi unjuk rasa.
“Kami berharap ke depan Polda lebih humanis dalam penanganan aksi dan turut hadir bagi korban aksi sebagai bentuk empati dan rekonsiliasi sosial,” ujarnya.
Sementara David Alvindo dari BEM Universitas Dehasen menyoroti peran siswa dalam unjuk rasa.
“Perlu dilakukan sosialisasi kepada siswa-siswi agar tidak terlibat dalam aksi mahasiswa, karena potensi tindakan anarkis justru banyak dilakukan oleh mereka yang belum cukup umur,” jelas David.
Menanggapi sejumlah masukan tersebut, Dansat Brimob dan para pejabat utama Polda Bengkulu memberikan penegasan bahwa mahasiswa bukanlah pihak yang dimusuhi dalam pelaksanaan pengamanan aksi.
“Kami tidak pernah menganggap mahasiswa, BEM, maupun OKP sebagai musuh. Yang kami hadapi di lapangan adalah oknum perusuh dan kelompok anarko yang menyusup ke dalam aksi,” tegas Dansat Brimob.
Hal senada juga disampaikan oleh Dirintelkam dan Dirreskrimum Polda Bengkulu. Keduanya menekankan bahwa tindakan penegakan hukum hanya ditujukan kepada pelaku anarkisme, bukan terhadap penyampai aspirasi yang sah secara konstitusional.
“Kami minta agar rekan-rekan mahasiswa bisa membantu memisahkan diri dari oknum yang berniat merusak suasana aksi,” ujar Dirreskrimum.
Kegiatan coffee morning ini menjadi simbol penting bahwa komunikasi antara mahasiswa dan aparat keamanan harus terus dijaga demi menciptakan ruang demokrasi yang sehat, dialogis, dan beradab.
Pewarta: Restu Edi
Editor : Desty Dwi Fitria
COPYRIGHT © COVERPUBLIK 2025









