Bantuan Gempa Bengkulu Tidak Adil dan Tidak Merata

Kondisi Rumah Warga Terdampak Gempa di RT 47 Perumahan Raffelesia Asri, Kelurahan Betungan, Kecamatan Selebar, pada Sabtu (24/5/2025)

BENGKULU, CoverPublik.com – Sejumlah warga terdampak gempa bumi di Kota Bengkulu mengeluhkan distribusi bantuan makanan yang dinilai belum merata dan tidak sesuai dengan harapan. Gempa 6,3 SR yang mengguncang kota tersebut pada Jumat (23/5/2025) menyebabkan ratusan rumah rusak dan memaksa banyak warga untuk mengungsi atau tinggal sementara di luar rumah mereka.

Keluhan disampaikan oleh salah satu warga terdampak di RT 47, Perumahan Raffelesia Asri, Kelurahan Betungan, Kecamatan Selebar, pada Sabtu (24/5). Warga yang enggan disebutkan namanya itu menyatakan bahwa bantuan makanan yang diterima tidak adil dan tidak merata.

Lurah Betungan, Nato Sinarman.

“Kalau bantuan mungkin dari pemerintah sudah ada, tapi karena warga yang terdampak banyak, jadi pembagian tidak maksimal. Contohnya di RT 48 dapat makanan tiga kali sehari sementara di RT kami (47) cuma satu bungkus per KK itu pun cuma sekali sehari, untuk di pahami bahwa yang terdampak gempa ini bukan cuma 1 orang dalam satu rumah, tapi sekeluarga, sementara akibat gempa semua barang – barang kami hancur akibat gempa dan kami sangat membutuhkan bantuan dari berbagi pihak, terkhusus pemerintah provinsi maupun kota Bengkulu.” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa sejak awal pendataan, warga dijanjikan akan mendapatkan makanan tiga kali sehari. Namun, kenyataannya jauh dari harapan, kemi berharap agar pihak yang mendistribusikan bantuan jangan pilih kasih, tolong bagikan secara merata dan adil.

“Dari pertama didata sama Pak RT, katanya bantuan makan tiga kali sehari. Tapi kenyataannya kita cuma dapat sekali. Kalau kayak gini terus, kami khawatir ada yang sampai sakit,” imbuhnya.

Rumah Warga Terdampak Gempa

Menanggapi keluhan tersebut, Lurah Betungan, Nato Sinarman, menjelaskan bahwa teknis distribusi bantuan sangat bergantung pada keaktifan masing-masing RT dalam melaporkan data warga yang terdampak.

“Kita sudah umumkan di grup WhatsApp RT-RW bahwa ketua RT yang warganya terdampak, terutama yang di luar lingkungan inti, harus segera melaporkan datanya. Kalau tidak dilaporkan lengkap, kami tidak bisa kirim bantuan secara menyeluruh,” ujar Nato.

Ia menegaskan bahwa pihak kelurahan tidak bermaksud pilih kasih, namun keterlambatan atau ketidaktepatan data dari lapangan membuat proses distribusi bantuan menjadi tersendat.

“Banyak RT yang terlambat merespons. Padahal ini situasi darurat. Kami minta semua RT aktif. Kalau datanya tidak lengkap atau salah, kami sulit bergerak,” tegasnya.

Sementara itu, Pemerintah Provinsi Bengkulu bersama Polda Bengkulu, Pemkot Bengkulu, unsur TNI, Polri, BPBD daerah, serta berbagai instansi terkait kini tengah melakukan pendataan ulang secara menyeluruh. Langkah ini dilakukan untuk memastikan bahwa semua warga terdampak menerima bantuan yang adil dan sesuai kebutuhan.

Pemerintah juga mengajak seluruh elemen masyarakat, terutama para ketua RT dan perangkat kelurahan, untuk lebih aktif dan sigap dalam melaporkan kondisi warganya.

Hingga kini, ratusan warga masih bertahan di tenda-tenda darurat, sebagian lainnya menumpang tinggal di rumah kerabat. Mereka berharap distribusi bantuan ke depan bisa lebih merata, adil, dan sesuai janji awal. Pemerintah pun didesak agar memperbaiki koordinasi lintas sektor agar krisis pasca-bencana ini tidak semakin memperburuk kondisi warga.

Pewarta: Restu Edi
Editor : Masya Heri
COPYRIGHT © COVERPUBLIK 2025