Dampak Overstimulasi Pada Tumbuh Kembang

Fevi Aditya A, S.Tr,Keb., CHE. dok. Fevi/Coverpublik.com

Bersama Fevi Aditya A, S.Tr,Keb., CHE dan Doodle Exclusive Baby Care

Doodle.id – Setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk buah hatinya. Orang tua rela memberikan apa saja agar tumbuh kembang anaknya optimal. Salah satu caranya dengan memberikan stimulasi dari nutrisi maupun pola asuh. Sayangnya, saking ingin si kecil tumbuh jenius, orang tua kerap tak menyadari bahwa yang dilakukannya adalah overstimulasi. Sebab, bayi rentan mengalami overstimulasi atau stimulasi berlebihan yang bisa menimbulkan berbagai gejala. Ketahui selengkapnya tentang overstimulasi bersama Doodle Exclusive Baby Care berikut ini.

Membahas overstimulasi tidak terlalu familiar dengan bahasan ini, menangkap dari dua kata over dan stimulasi, over yang artinya berlebihan, stimulasi artinya rangsangan. Sehingga over stimulasi artinya situasi ketika bayi atau anak menerima rangsangan stimulasi secara berlebihan. Hal tersebut disampaikan Fevi Aditya A, S.Tr,Keb., CHE dalam livenya bersama Doodle Exclusive Baby Care beberapa waktu lalu. Bidan Fe begitu panggilannya mengatakan yang namanya sesuatu yang diterima secara berlebihan tidaklah baik. Overstimulasi sering kali terjadi dan orangtua tidak menyadarinya dan bahkan hampir setiap bayi mengalami overstimulasi disituasi tertentu. Terkadang sangat penting dibahas, terutama untuk orangtua baru yang sering sekali bingung menghadapi bayi atau anak yang mengalami overstimulasi.

“Overstimulasi berupa rangsangan, ada banyak rangsangan yang diberikan untuk bayi berdasarkan umurnya. Jadi menurut perkembangan overstimulasinya juga berbeda, berbeda bagaimana responnya, berbeda bagaimana dampaknya dan berbeda bagaimana cara menanggulanginya. Karena kan bayi atau anak tersebut berada pada tahap diumur ada yang sudah mengerti ada yang belum. Kalau untuk rangsangannya sendiri, akan dibahas kemungkinan dan sering kali terjadi, dari rangsangan sensorik, rangsangan audio, rangsangan visual, rangsangan aktivitas, rangsangan lingkungan, rangsangan sentuhan dan lainnya,” ungkapnya.

Owner Fe Care Mom and Baby Spa ini menerangkan jika ada beberapa tanda bayi mengalami overstimulasi. Karena setiap bayi berbeda-beda ada bayi yang responnya tenang tersenyum selalu, ada yang responnya kesal atau badmood. Tanda-tanda bayi mengalami overstimulasi untuk bayi new born atau bayi dibawah 1 tahun, biasanya kalau mengalami overstimulasi akan lebih rewel. Bayi belum bisa berkomunikasi, hanya bisa dilakukan dengan cara menangis, tangisannya ini tidak semua orangtua mengerti apakah karena lapar, pipis atau Buang Air Besar (BAB). Jadi karena bayi yang mengalami overstimulasi ini lebih rewel menjadi serba salah dan lebih mudah menangis.

“Selain itu, bayi new born yang mengalami overstimulasi ini akan menangis lebih kencang dari biasanya. Bayi itu sebenarnya mudah ditenangkan, tetapi apabila mengalami overstimulasi akan menjadi sulit untuk ditenangkan, lebih rewel dan lebih kencang dari biasanya. Bayi new born yang mengalami overstimulasi juga memalingkan wajahnya dari orang dewasa atau orang yang sedang berkomunikasi dengan bayi tersebut. Karena respon bayi yang relaks dan santai akan merespon dengan baik, tetapi yang mengalami overstimulasi justru memalingkan wajahnya. Bayi yang mengalami overstimulasi juga sering mengusap mata atau menutup mata bisa jadi dikarenakan bayi tersebut ingin ketenangan dan istirahat,” katanya lagi.

Bidan Fe menambahkan, berbeda dengan bayi new born hingga usia satu tahun, untuk anak usia 3 tahun atau batita yang mengalami overstimulasi, selain rewel akan lebih serba salah. Biasanya anak usia 1 hingga 3 tahun sudah bisa berkomunikasi dan mengalami overstimulasi jika ada orangtua tertawa anak akan lebih sensitive dan mudah tersinggung. Ada juga ketika overstimulasi berlebihan anak menjadi tantrum bahkan sampai menjatuhkan diri ke lantai.

“Sedangkan untuk anak balita yang mengalami overstimulasi tidak jauh dari batita, kalau balita itu responnya jauh lebih nampak dan mudah dimengerti. Sesuatu yang tidak dipahami menjadi susah dibujuk dan susah disentuh,” tambahnya.

Pemicu anak yang mengalami overstimulasi, banyak tergantung situasi dan kondisi. Hal tersebut disampaikan Wanita asal Bengkulu tersebut. Dirinya menuturkan salah satu contohnya overstimulasi karena lingkungan. Apakah membawa anak dalam kondisi yang ramai. Misalnya membawa anak ke pesta yang sering kali anak menjadi tidak nyaman hal ini dikarenakan anak merasa disituasi tidak pada tempatnya.

“Disini sebagai orangtua harus siaga untuk mencari tempat yang nyaman untuk anak. Karena perubahan suhu sebagai salahsatu pemicu overstimulasi. Terlalu banyak aktivitas bersama orang dewasa juga menjadi salah satu pemicu overstimulasi. Anak dibawah 5 tahun perkembangan otaknya belum terlalu sempurna sehingga akan mudah lelah dan tidak bisa menangkap semua rangsangan secara berlebihan,” tandasnya.

Wanita yang memiliki usaha layanan pijat bayi ini juga mengatakan ada waktu-waktu tertentu yang membuat bayi atau anak menjadi overstimulasi. Yang jelas sebagai orang dewasa harus bisa membedakan dan membagi-bagi waktu ketika bayi atau anak mana waktu ketika makan atau menyusui, waktu untuk beristirahat atau tidur dan waktu untuk bermain sambil stimulasi untuk kecerdasan otak dan fisiknya. Ketika orangtua sudah tau kondisi tertentu misalnya waktunya makan atau menyusui memberikan stimulasi inilah yang membuat overstimulasi.

“Memberikan screentime anak yang berusia 2 tahun jangan diberikan gadget hal inilah yang akan mempengaruhi perkembangan otak dan menjadi bingung cenderung lebih pasif. Ketika anak yang mengalami kelebihan overstimulasi akan cenderung lebih rewel dan mengingat atau menjadi trauma. Diusahakan waktu makan dan waktu tidur biarkan anak tidur dan makan tetapi waktu bermain dan belajar saatnya memberikan stimulasi tetapi jangan berlebihan,”terangnya.

Diakhir wawancaranya, Fevi Aditya A, S.Tr,Keb., CHE berpesan segala sesuatu yang berlebih sangatlah tidak baik, untuk itu sebagai orangtua jangan sampai mau yang terbaik menjadi yang terburuk. Berikanlah stimulasi pada tempatnya, pada umurnya, pada waktunya. Jangan sampai memberikan stimulasi berdampak menjadi overstimulasi dan berdampak jangka panjang. Sehingga anak atau bayi yang tadinya tumbuh kembang dengan baik dan sempurna menjadi stress atau hormon kongenital menjadi tinggi membuat menjadi susah diatur oleh orangtua.