SBY Ingatkan Krisis 2008 Berpotensi Terulang Jika Konflik Timur Tengah Berlanjut

Jakarta, CoverPublik.com – Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono mengingatkan dunia internasional untuk mewaspadai potensi memburuknya kondisi ekonomi global akibat eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.

Pernyataan tersebut disampaikan SBY saat memberikan pidato dalam acara Supermentor-28 On Leadership yang digelar di The St. Regis Jakarta, Selasa (14/4) malam.

Dalam pidatonya, SBY menekankan pentingnya kesadaran kolektif para pemimpin dunia untuk mencegah dampak yang lebih luas terhadap perekonomian global. Ia menilai, konflik yang berkepanjangan berpotensi menimbulkan tekanan serius terhadap stabilitas ekonomi dunia.

“Saya kira semua tahu, ada dunia ekonomi. Sekarang hati-hati, kalau perang tidak segera berakhir di Timur Tengah, barangkali nasib dunia, terutama perekonomian dunia, akan sungguh buruk,” kata SBY.

Menurut dia, sekalipun tercapai kesepakatan damai, pemulihan ekonomi global tidak akan terjadi secara instan. Dunia membutuhkan waktu untuk menstabilkan kembali kondisi ekonomi yang terdampak konflik.

“Kalau perang berakhir dan kesepakatan tercapai, tidak berarti kita langsung kembali normal. Perlu waktu untuk menstabilkan dan menormalkan ekonomi global,” ujarnya.

SBY juga mengingatkan potensi terulangnya krisis finansial global seperti yang terjadi pada Krisis finansial global 2008 apabila upaya diplomasi gagal dilakukan secara efektif.

“So, apa yang kita alami dulu dalam krisis 2008 bisa terjadi lagi jika tidak ada kesadaran global dan para pemimpin dunia gagal menjalankan perannya,” katanya.

Ia mengajak seluruh pihak untuk mengambil pelajaran dari krisis sebelumnya sebagai dasar dalam menghadapi ketidakpastian global saat ini. Menurutnya, kesiapan dan mitigasi risiko menjadi kunci dalam menjaga stabilitas ekonomi.

SBY juga menekankan pentingnya sikap optimistis yang disertai kewaspadaan tinggi terhadap berbagai kemungkinan terburuk akibat dinamika geopolitik.

“So, hoping for the best, preparing for the worst,” ujar SBY.