
Jakarta, CoverPublik.com – Kementerian Kebudayaan bersama Perpustakaan Nasional (Perpusnas) mengembangkan Cerita Panji sebagai salah satu instrumen diplomasi kebudayaan Indonesia di kancah internasional. Kisah klasik yang berasal dari abad ke-13 itu dinilai memiliki nilai historis dan budaya yang kuat serta telah tersebar luas ke berbagai negara Asia Tenggara.
“Cerita Panji ini bisa menjadi alat kita untuk melakukan diplomasi yang cukup kuat. Sebarannya sampai Asia Tenggara. Ini penting supaya kita sebagai bangsa merasa percaya diri,” ujar Direktur Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Kemenbud, Restu Gunawan, Selasa (4/11/2025).
Restu menjelaskan, penyebaran kisah Panji menunjukkan pengaruh besar kebudayaan Indonesia di kawasan regional melalui karya sastra dan manuskrip lontar. Ia menilai, Cerita Panji merupakan karya anak bangsa yang membuktikan kemampuan Indonesia dalam melahirkan karya sastra yang menembus batas negara.
“Kisah Panji bahkan masih hidup di Malaysia, Brunei Darussalam, Laos, Kamboja, dan Thailand sampai hari ini,” katanya.
Kementerian juga membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak untuk melindungi hak kekayaan intelektual (HAKI) Cerita Panji agar dapat terus dikembangkan dan dikenal lebih luas. Selain itu, pengenalan kepada generasi muda menjadi langkah penting dalam menjaga kelestarian warisan sastra tersebut.
Pada kesempatan yang sama, Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas, Suharyanto, menjelaskan bahwa seminar sastra dan budaya Panji bertajuk “Sepanjang Masa” digelar untuk meneguhkan kembali jati diri bangsa melalui warisan sastra luhur.
“Kisah Panji bukan sekadar legenda, tetapi cerminan peradaban yang lahir dari Jawa dan menyebar ke berbagai wilayah Indonesia seperti Bali, Lombok, Kalimantan, hingga Semenanjung Melayu. Cerita ini sarat dengan nilai moral, cinta, dan pencarian jati diri,” ujar Suharyanto.
Ia menambahkan, melalui pameran dan diskusi, masyarakat diajak untuk menelusuri bagaimana kisah Panji menjadi wahana pembentukan identitas budaya sekaligus bukti keterhubungan intelektual dan artistik antartradisi di Nusantara.
Suharyanto juga mengajak masyarakat untuk kembali membaca kisah Panji bukan hanya sebagai artefak masa lalu, tetapi sebagai karya hidup yang terus menginspirasi.
Gelaran seminar dan pameran Cerita Panji yang berlangsung pada 4–7 November 2025 ini juga memperingati delapan tahun penetapan Cerita Panji sebagai Memory of the World oleh UNESCO pada 31 Oktober 2017.









