Kemenbud Perkuat Ekosistem Wayang dan Gamelan Lewat Pekan ICH

Walikota Solo Respati Achmad Ardianto, Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Restu Gunawan, Menteri Kebudayaan Fadli Zon dan Dalang Wayang Kulit Ki Purbo Asmoro saat menghadiri Pekan Intangible Cultural Heritage (ICH) Wayang dan Gamelan 2025, Halaman Balai kota Surakarta, Surakarta, Jawa Tengah, Jumat malam (7/11/2025) (Foto: Dokumentasi/Kementerian Kebudayaan)

Jakarta, CoverPublik.com – Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) terus berupaya memperkuat ekosistem kesenian tradisional Wayang dan Gamelan melalui penyelenggaraan Pekan Intangible Cultural Heritage (ICH). Kegiatan ini menjadi bentuk apresiasi pemerintah terhadap pencapaian Wayang yang telah masuk dalam daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO sejak tahun 2008.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan, Wayang bukan sekadar tontonan, tetapi juga tuntunan kehidupan. “Di dalamnya banyak sekali refleksi, simbol, serta kisah yang sarat dengan nilai moral, etika, dan spiritual yang disampaikan dengan cara yang indah,” ujarnya dalam keterangan pers yang diterima di Jakarta, Sabtu (8/11/2025).

Fadli menjelaskan, Wayang memiliki peran penting sebagai media pendidikan, dakwah, dan refleksi diri yang relevan lintas generasi. Karena itu, pelestarian Wayang bukan hanya menjaga warisan budaya, melainkan juga mempertahankan nilai-nilai moral bangsa.

Meski demikian, Fadli mengakui masih terdapat tantangan dalam menjaga keberlanjutan kesenian Wayang agar tetap relevan dengan perkembangan zaman. “Di bawah kepemimpinan Bapak Presiden Prabowo Subianto, Kementerian Kebudayaan memiliki tugas besar untuk melakukan pelindungan kebudayaan. Namun pelindungan saja tidak cukup, kita juga harus melakukan pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan kebudayaan,” katanya.

Ia menegaskan bahwa pelestarian Wayang sejalan dengan amanat Pasal 32 Ayat 1 UUD 1945 tentang tanggung jawab bersama dalam menjaga kebudayaan nasional. “Kita semua memiliki tanggung jawab untuk membawa Wayang berkontribusi bagi peradaban dunia,” ujar Fadli.

Sementara itu, Wali Kota Surakarta Respati Achmad Ardianto menyampaikan bahwa Pekan Wayang dan Gamelan merupakan refleksi perjalanan panjang kebudayaan Nusantara. Menurutnya, budaya tidak hanya untuk dilestarikan, tetapi juga harus dihidupkan kembali dengan cara yang kreatif dan berani.
“Ini merupakan perjalanan panjang kebudayaan. Kami percaya Surakarta bukan hanya kota budaya, tetapi juga kota yang menjaga dan menghidupkan tradisi Nusantara,” ucap Respati.

Ia berharap kegiatan Pekan ICH ini dapat menjadi momentum untuk meneguhkan kecintaan masyarakat terhadap warisan budaya bangsa. “Melalui kegiatan ini, generasi muda diharapkan semakin bangga, mengenal, dan aktif melestarikan budaya takbenda Indonesia,” katanya.