
Sukabumi, CoverPublik.com – Kisah tragis menimpa Raya, bocah berusia tiga tahun asal Kampung Padangenyang, Desa Cianaga, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi. Ia meninggal dunia setelah diketahui seluruh tubuh hingga otaknya dipenuhi cacing.
Kepala Desa Cianaga, Wardi Sutandi, menjelaskan kondisi keluarga Raya yang jauh dari kata sempurna. Kedua orangtuanya disebut mengalami gangguan jiwa (ODGJ), sehingga pengasuhan terhadap sang anak tidak berjalan optimal.
“Anak itu sering main di kolong rumah sama ayam karena rumahnya panggung. Untuk jalan juga agak lambat, lalu sering sakit demam. Sudah sempat diperiksa ke klinik, bahkan diketahui ada penyakit paru,” kata Wardi, Senin (18/8).
Wardi menegaskan pemerintah desa telah berupaya maksimal membantu keluarga tersebut, mulai dari bantuan kesehatan, program gizi tambahan, hingga pembangunan kembali rumah yang sempat hancur. Namun, kondisi orangtua yang ODGJ membuat situasi semakin sulit.
“Desa sudah berusaha semaksimal mungkin. Bahkan anak itu sempat sehat, timbangan naik karena rutin dapat PMT (Pemberian Makanan Tambahan),” ujarnya.
Sayangnya, ketika kondisi Raya memburuk, keluarganya tidak segera membawa ke rumah sakit. “Mungkin mereka tidak menyangka kalau Raya sudah dalam keadaan separah itu,” tambahnya.
Terhambat Birokrasi Administrasi
Pendiri Rumah Teduh & Peaceful Land, Iin Achsien, yang ikut mendampingi kasus ini, mengungkapkan perjuangan panjang saat berupaya menyelamatkan Raya.
“Kami dapat kabar dari kerabatnya tanggal 13 Juli 2025, katanya anak ini sesak napas. Begitu dicek, kondisinya sudah drop dan langsung dirujuk ke RSUD R Syamsudin SH (Bunut). Setelah diperiksa, ternyata penyakit cacingan akut sampai ke otaknya,” kata Iin.
Namun, kendala muncul karena Raya tidak memiliki identitas dan BPJS. Pihak rumah sakit memberi waktu 3×24 jam untuk pengurusan BPJS PBI, namun proses administrasi tersendat di beberapa instansi.
“Dari Disdukcapil diarahkan ke Dinsos, lalu ke Dinkes, tapi semua berakhir buntu. Waktunya habis tiga hari tanpa solusi. Akhirnya perawatan diubah menjadi status tunai, ditanggung Rumah Teduh,” ujarnya.
Iin menyebut total biaya perawatan mencapai Rp23 juta lebih, meski akhirnya sebagian dibebaskan setelah ada pembayaran awal.
Harapan untuk Sistem Kesehatan
Iin menegaskan, kasus Raya menunjukkan masih lemahnya sistem kesehatan dalam menangani masyarakat miskin.
“Sering kali kita sudah tidak bisa mengandalkan sistem kesehatan di Indonesia karena belum berpihak pada masyarakat tidak mampu seperti Raya,” kata Iin.
Menurutnya, pemerintah seharusnya segera membuat kebijakan yang memudahkan penanganan darurat kesehatan, agar kasus serupa tidak terulang.
“Minimal masyarakat harus tahu, kita harus bergandengan tangan untuk urusan kesehatan. Jangan menunggu sampai meninggal baru ramai,” pungkasnya.
Pewarta: Restu Edi
Editor : Desty Dwi Fitria
COPYRIGHT © COVERPUBLIK 2025









