Fenomena Pemuda Lebong Merantau ke Luar Negeri Akibat Minimnya Lapangan Kerja

Foto Ilustrasi. Pemuda di Kabupaten Lebong saat merantau ke luar negeri akibat Minimnya Peluang Kerja.

Lebong, Coverpublik.com – Keinginan para pemuda Kabupaten Lebong untuk merantau ke luar negeri semakin tinggi, kerana faktor utamanya akibat terbatasnya lapangan pekerjaan di daerah tersebut.

Salah seorang pemuda lulusan sarjana pendidikan asal Desa Ketenong, Kabupaten Lebong, Herlis  mengungkapkan rencananya untuk bekerja di luar negeri dalam waktu dekat, mengikuti jejak sahabat-sahabatnya yang sudah lebih dulu berangkat.

“Saya juga akan menjadi tenaga kerja Indonesia di luar negeri yaitu ke Jepang. Insya Allah, dalam waktu yang tidak begitu lama. Sahabat-sahabat saya sudah berangkat ke luar negeri ada yang ke Malaysia dan lainnya, saya akan menyusul mereka. Satu desa dengan saya ada lima orang di luar negeri, mungkin di desa lain banyak juga saudara kita berangkat ke luar negeri. Doakan semoga langkah saya membawa kabar baik,” kata Herlis.

Meskipun ia telah menempuh pendidikan tinggi, pemuda ini merasa bahwa peluang untuk mendapatkan pekerjaan di Kabupaten Lebong sangatlah terbatas, ia juga telah mencoba untuk melamar pekerjaan di dalam negeri, namun selalu gagal.

Menurutnya, meskipun ia sudah berusaha mencari pekerjaan yang sesuai dengan latar belakang pendidikannya, hampir tidak ada kesempatan yang memadai di daerahnya.

Kritikan terhadap Pemerintah Daerah

Fenomena ini memunculkan kritikan tajam terhadap pemerintah daerah, yang dianggap gagal menciptakan lapangan pekerjaan yang cukup bagi para pemuda.

Salah satu warga Desa Ketenong Kabupaten Lebong, Budi (55) mengungkapkan kekecewaannya atas kondisi yang ada. Banyak yang merasa bahwa meskipun pemuda-pemuda ini telah menyelesaikan pendidikan mereka, peluang untuk bekerja di Kabupaten Lebong sangat minim. Hal ini, menurut mereka, menyebabkan banyak pemuda terpaksa meninggalkan kampung halaman mereka untuk mencari penghidupan di luar negeri.

“Kalau pemuda sudah merasa tidak ada lagi harapan di sini, mereka pasti akan mencari cara lain. Mungkin banyak yang memilih untuk bekerja di luar negeri karena di sini tidak ada pekerjaan yang sesuai. Pemerintah seharusnya bisa lebih kreatif dalam menciptakan lapangan kerja dan memberikan peluang bagi pemuda,” ujar Budi yang turut mengkritik kurangnya perhatian pemerintah daerah terhadap isu pengangguran.

Harapan akan Perubahan

Banyak pihak berharap agar pemerintah Kabupaten Lebong dapat lebih serius dalam mengatasi masalah pengangguran dan menciptakan kesempatan kerja yang lebih luas bagi para pemuda. “Kami berharap pemerintah daerah bisa lebih memperhatikan dan menyediakan pelatihan keterampilan yang relevan, serta menciptakan peluang di sektor industri agar pemuda-pemuda kami tidak merasa terpaksa merantau untuk mendapatkan penghidupan,” tambah Supri warga Desa Muara Aman.

Dalam hal ini, pemerintah diharapkan tidak hanya fokus pada sektor pertanian yang telah ada, tetapi juga memperluas peluang di sektor lain yang bisa menyerap tenaga kerja, seperti sektor teknologi, pariwisata, dan industri kreatif.

Pemuda asal Kabupaten Lebong itu pun berharap langkahnya untuk bekerja di luar negeri tidak hanya memberikan kehidupan yang lebih baik baginya, tetapi juga dapat memberikan inspirasi bagi generasi muda lainnya untuk tetap berjuang demi masa depan yang lebih cerah.

Sementara itu, Kepala Bidang Ketenagakerjaan, Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Lebong, Riko Tandean, S.E., mengatakan, Pemerintah Kabupaten Lebong kembali membuka peluang bagi masyarakat Kabupaten Lebong yang ingin menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Jepang, program menjadi PMI di Jepang ini, dibuka melalui program Government to Government (G to G) 2025, program ini ditujukan untuk posisi careworker dan nurse.

“Pendaftaran sudah dibuka dan akan berakhir pada 31 Mei 2025,” ucapnya.

Program ini terbuka usia minimal 18 tahun dan maksimal 35 tahun dengan latar belakang pendidikan minimal D3, D4, S1 Keperawatan. Namun, peluang juga terbuka bagi lulusan D3 non-keperawatan yang memiliki sertifikat careworker dari lembaga pelatihan resmi.

Pendaftaran dapat dilakukan melalui situs resmi https://siskop2mi.bp2migo.id.

“Bagi masyarakat Lebong yang berminat untuk segera mendaftar,” imbau Riko.

Selain itu, kemampuan bahasa Jepang juga menjadi syarat penting, minimal pada tingkat Japanese Speaking Level 1 atau N5 setara dengan JLPT. Gaji yang ditawarkan dalam program ini cukup menggiurkan, berkisar antara 100.000 hingga 200.000 yen per bulan.

Ini kesempatan emas untuk bekerja di Jepang secara legal melalui program G to G. “Dengan adanya program ini, harapan kita dapat mengurangi pengangguran di Kabupaten Lebong,” tutupnya.

Perlu diketahui, dari data Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi Bengkulu tercata jumlah warga Bengkulu yang bermigrasi keluar negeri pada tahun 2020, 2021, dan 2022 dapat dilihat pada data berikut: Tahun 2020: 2.073 jiwa, Tahun 2021: 2.337 jiwa, Tahun 2022: 1.128 jiwa.

Penulis: Yulisman
Editor : Masya Heri