
Jakarta, CoverPublik.com – Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Lamhot Sinaga mengusulkan kepada pemerintah agar memanfaatkan film sebagai media promosi kebudayaan, pariwisata, dan produk kreatif Indonesia.
Usulan itu disampaikan Lamhot dalam rapat dengar pendapat bersama perwakilan Kementerian Ekonomi Kreatif dan asosiasi perfilman di kompleks Parlemen RI, Jakarta, Kamis. Menurut Lamhot, film memiliki potensi besar sebagai sarana promosi yang efektif bagi pariwisata dan produk kreatif tanah air.
“Perfilman kita ini bisa inline dengan UMKM, inline dengan ekonomi kreatif,” kata Lamhot. Ia mencontohkan keberhasilan Korea Selatan dan Jepang dalam mengembangkan industri film dan animasi sebagai daya tarik budaya dan ekonomi kreatif yang kuat.
Lamhot menekankan pentingnya kolaborasi pemerintah dengan rumah produksi dan asosiasi perfilman untuk menghadirkan karya-karya yang menampilkan keragaman budaya serta destinasi wisata Indonesia. “Ini tidak semata-mata soal uang, tetapi bagaimana program pemerintah inline dengan ekosistem perfilman Indonesia,” katanya.
Menurut Lamhot, industri perfilman memiliki kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional. Nilai perputaran ekonomi sektor ini mencapai Rp3,2 triliun pada 2024 dan berpotensi tumbuh 10 hingga 15 persen per tahun.
Sementara itu, anggota Komisi VII DPR Rahmawati menyarankan agar produksi film dilakukan di dalam negeri. “Jangan sampai kita buat di luar negeri, buatlah di tempat kita sendiri, misalnya di Danau Toba, karena akan mensejahterakan lingkungan setempat,” ujarnya.
Rapat dengar pendapat tersebut juga membahas akses penayangan film yang adil bagi rumah produksi, serta masalah pembiayaan, pemasaran, dan distribusi film. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat ekosistem perfilman nasional sekaligus meningkatkan kontribusi industri kreatif terhadap ekonomi lokal dan nasional.









