Jakarta, CoverPublik.com — Menteri Kebudayaan Fadli Zon mendukung inisiatif keluarga dalam mendokumentasikan serta merawat warisan musik R. Soetedjo, komponis asal Banyumas, Jawa Tengah, yang dinilai memiliki kontribusi penting dalam perkembangan musik Indonesia pada era awal kemerdekaan.
Dukungan tersebut disampaikan Fadli Zon saat menerima keluarga R. Soetedjo di Kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta, Jumat (20/2). Menurut dia, langkah keluarga menelusuri dan melengkapi data sejarah tokoh tersebut merupakan bagian penting dalam penguatan dokumentasi sejarah musik nasional.
“Saya mengapresiasi upaya keluarga yang telah menelusuri dan melengkapi data-data sejarah beliau. Ini penting sebagai bagian dari dokumentasi sejarah musik nasional,” ujar Fadli Zon.
Terkait rencana pengembangan museum di Purwokerto, ia mempersilakan keluarga untuk mengajukan proposal secara resmi agar dapat diproses sesuai mekanisme yang berlaku di Kementerian Kebudayaan.
Raden Soetedja Poerwodibroto atau R. Soetedjo dikenal sebagai komponis asal Banyumas yang berkiprah di Radio Republik Indonesia (RRI) Purwokerto dan Jakarta pada masa awal kemerdekaan. Ia juga tercatat pernah memimpin Orkes Studio Jakarta pada periode awal pendiriannya, serta berperan dalam pengembangan musik dan orkestra di Tanah Air.
Dalam pertemuan tersebut, keluarga memperkenalkan kembali sejumlah karya R. Soetedjo, di antaranya lagu “Tidurlah Intan” dan “Di Tepinya Sungai Serayu”, yang dinilai memiliki nilai historis dan kultural.
Cucu R. Soetedjo, Ario Prakoso, mengatakan keluarga ingin menghadirkan kembali sosok sang komponis sebagai salah satu pelopor musik Indonesia.
“Kami ingin memperkenalkan kembali R. Soetedjo sebagai salah satu pelopor musik Indonesia. Banyak yang mengenal lagunya, tetapi belum tentu mengetahui kontribusinya dalam sejarah musik nasional,” kata Ario.
Sementara itu, cucu lainnya, Artika, menyampaikan bahwa keluarga telah mengumpulkan berbagai arsip, mulai dari riwayat pendidikan, perjalanan karier, hingga dokumentasi karya R. Soetedjo sebagai bagian dari upaya pelestarian.
Keluarga juga mengusulkan agar Gedung Kesenian R. Soetedjo di Purwokerto dikembangkan menjadi ruang dokumentasi dan edukasi seni, sekaligus museum yang menampilkan karya-karya R. Soetedjo serta seniman lokal Banyumas.
“Gedungnya sudah ada, namun belum berfungsi maksimal. Jika dapat dihidupkan seperti Lokananta, tentu akan memberi dampak bagi masyarakat,” ujar Artika.
Kementerian Kebudayaan menegaskan dukungan terhadap upaya pelestarian dan pendokumentasian sejarah musik nasional yang melibatkan pemerintah daerah serta partisipasi masyarakat, sebagai bagian dari penguatan ekosistem kebudayaan di Indonesia.










