Jakarta, CoverPublik.com – Indonesia, yang sejak lama dikenal sebagai “ibu rempah dunia”, kini menghadapi tantangan besar untuk naik kelas dari sekadar eksportir bahan mentah menjadi produsen unggulan produk turunan rempah bernilai tinggi. Lada, pala, cengkeh, kemenyan, dan sederet kekayaan hayati lainnya tersebar dari Aceh hingga Papua, namun sebagian besar masih diekspor dalam bentuk mentah, tanpa nilai tambah berarti.
Padahal, peluang hilirisasi rempah sangat terbuka lebar. Menurut data BPS dan Kementerian Pertanian, produksi rempah nasional seperti cengkeh (sekitar 109 ribu ton/tahun), pala (40-44 ribu ton), dan lada (89 ribu ton) menunjukkan konsistensi tinggi. Namun, Indonesia masih berada di posisi bawah rantai nilai global karena lemahnya industrialisasi dan pengolahan produk turunan.
“Rempah bukan sekadar bumbu dapur, tapi aset budaya dan ekonomi. Hilirisasi adalah jalan untuk mengangkat martabat bangsa,” ujar Mohamad Atqa, Pamong Budaya di Kementerian Kebudayaan.
Nilai Ekspor Meningkat, Tapi Potensi Masih Tersembunyi
Ekspor minyak atsiri Indonesia mencapai Rp4,2 triliun atau US$259 juta pada 2024—tertinggi dalam lima tahun terakhir, menjadikan Indonesia sebagai eksportir terbesar ke-8 dunia. Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka bahkan menyoroti pentingnya hilirisasi rempah sebagai langkah strategis untuk menumbuhkan ekonomi nasional dan memperkuat posisi Indonesia di pasar dunia.
Rempah Nusantara menyimpan senyawa aktif yang diburu industri global. Misalnya, minyak benzoin dari resin kemenyan—digunakan dalam parfum, aromaterapi, hingga salep—dihargai hingga US$70 per kilogram. Eugenol dalam cengkeh, myristisin dari pala, dan α-santalol dari cendana juga menjadi komoditas unggulan di pasar internasional.
“Kalau dijual mentah, hasilnya kecil. Tapi kalau diolah jadi ekstrak atau minyak esensial, harganya bisa naik berkali lipat,” ujar Atqa.
Tantangan: Riset Lemah, Infrastruktur Minim
Meski prospeknya cerah, hilirisasi rempah belum menjadi arus utama. Hambatan terbesar adalah lemahnya riset, kurangnya laboratorium fitokimia di sentra produksi, serta keterbatasan teknologi ekstraksi. Di sisi petani, masih banyak yang berjuang tanpa dukungan pelatihan, pembiayaan, dan akses pasar.
“Petani rempah kita masih banyak yang kerja sendiri. Mereka butuh teknologi, pelatihan, dan ekosistem pasar yang berpihak,” kata Atqa.
Perubahan iklim dan alih fungsi lahan menjadi tambang dan sawit turut mempersempit ruang tanam rempah. Produk turunan pun sulit bersaing karena minimnya sertifikasi dan standar mutu internasional.
Solusi: Klaster Industri, Festival Rempah Dunia
Untuk menjawab tantangan tersebut, Atqa mengusulkan beberapa langkah konkret. Di antaranya:
- Pendirian pusat riset fitokimia di Maluku, Sulawesi, dan NTT.
- Penguatan koperasi petani dengan akses KUR dan penyulingan mini.
- Program sertifikasi seperti organik dan Indikasi Geografis.
- Klaster industri terpadu seperti farmasi pala di Halmahera dan parfum benzoin di Tapanuli.
- Festival Rempah Dunia, sebagai ajang promosi dan diplomasi budaya global.
“Rempah kita sudah lama mengharumkan dunia, kini saatnya mengembalikan kejayaannya, bukan hanya sebagai komoditas, tetapi simbol kemandirian bangsa,” tutup Atqa.
Pewarta: Syafri Yantoni
Editor : Desty Dwi Fitria
COPYRIGHT © COVERPUBLIK 2025










