Ketua Forum Moeda Indonesia: Isu Tambang Raja Ampat Digoreng untuk Serang Menteri ESDM Bahlil Lahadalia

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia Bahlil Lahadalia, di Jakarta, Senin (04/6) lalu. (Dok:KESDM RI)

Jakarta, Coverpublik.com – Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (Depnas) Forum Moeda Indonesia, Abubakar Solissa, menyebut bahwa terdapat pihak-pihak tertentu yang sengaja mengangkat isu pertambangan di Raja Ampat untuk menjatuhkan kredibilitas Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia.

Dalam keterangannya yang disampaikan pada Minggu (8/6/2025), Abubakar menyatakan bahwa isu tersebut merupakan rekayasa politik yang diarahkan secara sistematis untuk membentuk opini publik negatif terhadap Bahlil.

“Saya melihat isu ini sengaja difabrikasi oleh kelompok tertentu demi kepentingan politik, yaitu menjatuhkan kredibilitas Bang Bahlil,” ujar Abubakar Solissa.

Ia menegaskan bahwa pemberitaan soal aktivitas pertambangan di Raja Ampat yang beredar belakangan ini tidak disampaikan secara utuh dan proporsional. Akibatnya, opini publik yang terbentuk menjadi tidak objektif dan sarat kepentingan.

“Opini yang berkembang saat ini seperti telah diorkestrasi dengan agenda tunggal: menyerang dan merusak reputasi Bang Bahlil sebagai Menteri ESDM,” katanya.

Abubakar menambahkan bahwa perizinan pertambangan di wilayah Raja Ampat bukanlah kebijakan yang dimulai pada era kepemimpinan Bahlil sebagai menteri. Izin tersebut, kata dia, telah diberikan sejak tahun 2017, jauh sebelum Bahlil masuk dalam Kabinet Indonesia Maju.

“Izin tambang itu sudah diberikan sejak 2017, saat Bang Bahlil masih menjabat sebagai Ketua Umum BPP HIPMI. Jadi sangat tidak adil jika semua kesalahan ditumpahkan kepada beliau,” lanjutnya.

Sementara itu, Bendahara Umum Depnas Forum Moeda Indonesia, Yoga Mirza Pratama, turut memberikan pernyataan tegas terkait isu tersebut. Menurutnya, informasi yang disebarluaskan di media sosial mengenai keterlibatan Menteri ESDM dalam merusak kawasan wisata Raja Ampat tidak sesuai dengan fakta di lapangan.

“Kalau kita lihat secara objektif, posisi PT GAG Nikel itu berada di Pulau GAG yang berjarak 30 sampai 40 kilometer dari Pulau Piaynemo, pusat destinasi wisata Raja Ampat. Jadi aktivitas pertambangan itu tidak dilakukan di kawasan wisata,” tegas Yoga.

Lebih lanjut, Yoga menjelaskan bahwa justru pada masa kepemimpinan Bahlil sebagai Menteri ESDM, langkah-langkah tegas telah diambil untuk menanggapi aspirasi masyarakat dan menjaga keberlanjutan lingkungan.

“Bang Bahlil adalah sosok yang adil, responsif, dan terbuka terhadap masukan dari berbagai pihak. Beliau bahkan turun langsung ke lapangan, berdialog dengan masyarakat, dan memeriksa situasi secara langsung,” ujar Yoga.

Ia menambahkan bahwa setelah meninjau situasi, Bahlil Lahadalia langsung mengambil langkah tegas dengan membekukan sementara aktivitas pertambangan anak usaha PT Aneka Tambang Tbk (Antam), yakni PT GAG Nikel.

“Beliau memutuskan pembekuan aktivitas pertambangan demi menjaga kelestarian lingkungan dan mendengar aspirasi warga setempat. Ini membuktikan bahwa kepentingan rakyat tetap menjadi prioritas utama bagi Bang Bahlil,” pungkas Yoga.

Forum Moeda Indonesia mengajak masyarakat untuk tetap bijak dalam menyikapi isu-isu publik dan tidak mudah terpengaruh oleh narasi-narasi yang berpotensi memecah belah, apalagi jika didasari oleh kepentingan politik sesaat. Mereka menegaskan pentingnya verifikasi informasi sebelum membentuk opini atau menyebarluaskan berita.

Pewarta : Edwin Soleh

Editor : Masya Heri