Viral Dokter Dipaksa Buka Masker Pasien TBC, Wamenkes Minta Masyarakat Hormati Nakes

Dokter di sekayu dipaksa buka masker depan pasien TBC (Foto: Istimewa)

Jakarta, CoverPublik.com – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyesalkan tindakan kekerasan yang dialami seorang dokter spesialis penyakit dalam di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sekayu, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, yang videonya viral di media sosial.

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menegaskan pemerintah akan mendampingi proses hukum yang ditempuh tenaga medis tersebut.

“Kami sangat menyesalkan dan akan mendampingi proses hukum yang diajukan oleh dokter yang mengalami tindakan kekerasan,” kata Dante di Tangerang, Kamis (14/8).

Dante menyebut, sebagai bentuk dukungan, Kemenkes telah mengirimkan tim ke Sekayu untuk memberikan pendampingan hukum. “Kementerian Kesehatan prihatin. Dan kita sudah mengirimkan tim ke Sekayu untuk mendampingi dokter tersebut,” ujarnya.

Perlindungan Hukum untuk Tenaga Kesehatan

Wamenkes menegaskan keselamatan dan keamanan tenaga medis dijamin Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, yang menyebut tenaga kesehatan berhak mendapatkan perlindungan hukum saat menjalankan tugas.

“Kementerian Kesehatan menjamin secara maksimal seluruh tenaga kesehatan maupun tenaga medis agar bisa bekerja tanpa kekerasan,” kata Dante.

Menurut dia, dokter telah menjalankan profesinya sesuai standar prosedur pelayanan kesehatan. Bila masyarakat merasa tidak puas dengan pelayanan, ada mekanisme resmi pengaduan di rumah sakit.

“Kalau masyarakat tidak puas dengan pelayanan dokter ada salurannya di rumah sakit. Tapi tidak dengan kekerasan,” tegasnya.

Dante berharap kasus serupa tidak kembali terjadi, dan semua pihak dapat menciptakan lingkungan pelayanan kesehatan yang aman, bermartabat, serta saling menghormati.

Duduk Perkara

Video yang beredar menampilkan dokter penyakit dalam, Syahpri Putra Wangsa, diintimidasi keluarga pasien di RSUD Sekayu pada Selasa (12/8).

Dalam rekaman itu, keluarga pasien memaksa Syahpri melepas masker di hadapan pasien yang didiagnosis TBC serta melayangkan ancaman verbal. Mereka menuding pelayanan rumah sakit lambat meski telah menyewa ruang VIP.

“Ibu saya ini tiap hari disuruh tunggu dahak, kita sewa ruangan VIP ini untuk pelayanan yang bagus, yang layak, bukan sekadar suruh nunggu,” ujar pria dalam video dengan nada tinggi.

Syahpri mencoba tetap tenang dan menjelaskan prosedur medis. Ia menerangkan bahwa pasien mengalami hipoglikemi, tekanan darah tidak terkontrol, serta hasil rontgen menunjukkan bercak di paru-paru yang mengarah ke TBC.

Guna memastikan diagnosis, dokter perlu menunggu sampel dahak pasien. Namun, keluarga pasien mendesak tindakan medis cepat tanpa menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.

“Dahak berbeda dengan air liur. Pemeriksaan TBC harus dengan dahak untuk memastikan diagnosa,” jelas Syahpri dalam video.

Situasi memanas ketika keluarga pasien membuka masker dokter secara paksa. Bahkan, ancaman sempat dilontarkan. “Urus balik, kalau masih mau hidup urus balik ibu saya,” kata salah satu pria dalam rekaman tersebut.

Pewarta: Restu Edi
Editor : Desty Dwi Fitria
COPYRIGHT © COVERPUBLIK 2025